Tumpek Klurut (sering juga ditulis Tumpek Krulut) merupakan hari raya suci umat Hindu di Bali yang kerap dijuluki sebagai "Hari Valentine-nya Bali" karena sarat akan makna kasih sayang, keharmonisan, dan pemuliaan keindahan. Secara etimologi, kata krulut berasal dari kata dasar lulut dalam bahasa Bali yang berarti cinta, kasih sayang, atau keterikatan yang tulus, sedangkan tumpek merujuk pada hari pertemuan antara Sabtu (Saniscara) dan Pahing. Hari raya ini diperingati setiap 210 hari sekali (6 bulan dalam kalender Pawukon Bali), tepatnya pada hari Saniscara Kliwon Wuku Krulut.
Meskipun sering disandingkan dengan perayaan Valentine versi Barat, esensi Tumpek Klurut memiliki cakupan kasih sayang yang jauh lebih luas dari sekadar hubungan romantis antar-pasangan. Pada hari suci ini, umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara, yakni sang pencipta nada, suara suci, dan keindahan. Salah satu tradisi utamanya adalah penyucian instrumen gamelan (upacara piodalan gong) agar musik yang dihasilkan memiliki taksu atau daya magis spiritual yang mampu menenangkan jiwa, memperhalus budi pekerti, dan menghadirkan kedamaian.
Berbeda dengan perayaan Valentine Barat yang identik dengan hadiah fisik seperti cokelat dan bunga, Tumpek Klurut memanifestasikan cinta kasih melalui ritual persembahyangan, apresiasi seni, dan keharmonisan sosial yang berlandaskan prinsip Asah, Asih, Asuh. Melalui penerapan nilai Tri Hita Karana (hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam), Tumpek Klurut mengingatkan masyarakat bahwa cinta sejati bukan sekadar perasaan personal, melainkan energi tulus yang menyatukan seluruh elemen kehidupan dalam keindahan (Satyam, Siwam, Sundaram).
Di SMANTAN sendiri tumpek klurut ini dirayakan dengan acara persembahyangan yang dilakukan oleh Guru dan juga siswa serta dipimpin oleh pemangku sekolah. Dan ditahun ini terdapat pemberian apresiasi kepada guru dan juga siswa yang banyak berkontibusi dalam memajukan sekolah baik dalam pemberian prestasi dan juga kerja keras.
"Sebelumnya pada perayaan tumpek klurut kita melakukan beberapa kegiatan berbeda seperti melepas burung, menebar ikan dan kegiatan bakti sosial sebagai bentuk kasih sayang terhadap lingkungan dan alam. Kini perayaan tumpek klurut ini diisi dengan pemberian apresiasi kepada guru dan juga siswa yang banyak perkontibusi untuk sekolah ini. Tujuannya tidak lain untuk menambah semangat serta motivasi untuk terus menorehkan prestasi" Ujar kepala SMA Negeri 1 Pekutatan.
Rahina Tumpek Klurut menjadi pengingat penuh makna bahwa kasih sayang sejati lahir dari keharmonisan, rasa syukur, dan saling menghargai. Dari bait-bait doa yang dipanjatkan hingga senyum apresiasi yang dibagikan, mari terus jaga semangat Asah, Asih, Asuh dalam kehidupan sehari-hari.